Sejarah Gaharu Di Indonesia

 Alam Indonesia telah dikenal sebagai salah satu negara penghasil gaharu di dunia, Gaharu merupakan komoditi elit hasil hutan bukan kayu yang saat ini banyak diminati oleh konsumen, baik dalam negeri maupun luar negeri.

khasiat kayu ugahat

Gaharu merupakan tanaman yang unik dan mungkin tanaman yang paling berbeda dengan yang lainnya. Tanaman – tanaman yang ada di muka bumi ini adalah tanaman yang menghasilkan dari fungsi tanaman yang sehat, karena jika tanamannya sehat bisa memberikan hasil buah yang banyak, diameter batang yang besar.

Namun berbeda dengan tanaman gaharu, justru tanaman gaharu bisa menghasilkan jika tanaman terinveksi penyakit . Gaharu sudah ada sejak jaman kerajaan sriwijaya yang digunakan sebagai alat tukar.

Gaharu terdapat didalam pohon jenis tertentu. Ada sekitar 27 jenis tanaman gaharu, namun tidak semua jenis pohon gaharu menghasilkan gaharu dan tidak semua jenis pohon gaharu yang menghasilkan gaharu memiliki nilai eknomis yang tinggi.Dikarenakan tiap jenis pohon menghasilkan aroma yang berbeda dan ini disebabkan senyawa aromatik yang terdapat dalam gaharu berbeda-beda.

Diantara gaharu yang memiliki aroma di minati berasal dari jenis aquilariaspecies (a.malacensis,a.microcarpa,a.hirta,a.becariayang na,a.filaria,a.crasna), species Gyrinops verstigii dan species enklea malacensis.

Adapun jenis gaharu yang kurang ekonomis diantara dari jenis wikstromia dan gonistylus yang sering disebut gaharu buaya dikarenakan aromanya yang terlalu tajam dan pedas.

Walaupun sejak 1994 Indonesia berkewajiban melindungi pohon penghasil gaharu, namun menurut kenyataan, keberadaan pohon penghasil gaharu tersebut di Indonesia tidak terkecuali di Sumatera dan Kalimantan semakin langka. Selama ini masyarakat hanya tinggal memanen gaharu yang dihasilkan oleh alam. Seringkali masyarakat tidak tahu pasti kapan pohon penghasil gaharu mulai membentuk gaharu dan bagaimana prosesnya. Kelangkaan terjadi karena pohon penghasil gaharu ditebang tanpa memperhatikan Perkembangan Pemanfaatan Gaharu.

ada atau tidak adanya gaharu pada pohon tersebut. Menurut hasil kajian, dari 20 pohon penghasil gaharu yang ditebang di hutan alam hanya ada satu atau sering sama sekali tidak ada yang mengandung gaharu.

Kalaupun ada pohon yang mengandung gaharu, maka jumlah gaharu yang ada di pohon tersebut hanya beberapa gram saja. Oleh karena itu dapat dibayangkan kalau pencari gaharu mendapatkan gaharu kira-kira 5 kilogram, mungkin puluhan atau bahkan ratusan pohon penghasil gaharu yang harus ditebang. Praktek semacam inilah yang mengakibatkan jumlah pohon pengahasil gaharu di alam semakin menurun dari tahun ke tahun

Indikasi menurunnya pupulasi pohon penghasil gaharu ditunjukkan oleh kecenderungan produksi gaharu dari Kalimantan dan Sumatera dari tahun ke tahun, di mana realisasi produksi gaharu pada dekade 80’an pernah mencapai ribuan ton dengan kualitas yang tinggi, sedangkan saat ini produksi tersebut merosot drastis hanya kira-kira puluhan ton saja dengan kualitas yang bervariasi.

Guna menghindari agar tumbuhan jenis gaharu di alam tidak punah dan pemanfaatannya dapat lestari maka perlu diupayakan untuk konservasi, baik in-situ (dalam habitat) maupun ek-situ (di luar habitat) dan budidaya pohon penghasil gaharu. Namun upaya tersebut tidak mudah dilaksanakan, dan kalaupun ada usaha konservasi dan budidaya namun skalanya terbatas dan hanya dilakukan oleh lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan LSM konservasi. Sementara masyarakat secara luas enggan untuk melakukan budidaya pohon penghasil gaharu karena memang tidak memberikan keuntungan apa-apa.

Prospek untuk mengembalikan gaharu menjadi komoditi andalan kembali terbuka dengan ditemukannya teknologi rekayasa produksi gaharu. Dengan teknologi inokulasi maka produksi gaharu dapat direncanakan dan dipercepat melalui induksi jamur pembentuk gaharu pada pohon penghasil gaharu. Peningkatan produksi gaharu dimaksud (yang kegiatannya terdiri dari kegiatan di bagian hulu sampai hilir) selanjutnya akan berdampak pada peningkatan penerimaan oleh masyarakat petani, pengusaha gaharu, dan penerimaan pendapatan asli daerah serta devisa negara.

Tulisan ini dipaparkan dengan maksud untuk memberikan gambaran secara umum mengenai pemanfaatan gaharu, pemahaman mengenai pentingnya nilai gaharu, perlunya budidaya, konservasi, dan rekayasa pembentukan gaharu yang dapat mengembalikan status komoditi dari kelangkaan menjadi produk andalan.

Comments

comments

Incoming search terms:
  • sejarah gaharu yang ada di indonesia